Bayi 16 Bulan Tewas di Banting Ayah Kandung, Pengakuan Pria ini Sungguh Bikin Hati Miris

Banyak pasangan merindukan kehadiran seorang anak di tengah-tengah mereka. Bagi pasangan yang telah menikah, dikaruniai buah hati adalah hal terindah. Anak merupakan anugerah dari Tuhan, sudah selayaknya mereka dirawat dengan sepenuh hati dan kasih sayang oleh para orang tua.

Namun, sayangnya, di dunia ini masih banyak para orang tua yang tidak bertanggung jawab. Kasus yang melibatkan nyawa anak-anak ataupun bayi masih hadir dalam frekuensi tinggi. Banyak orang tua malah menyia-nyiakan anugerah yang sudah diberikan dengan bertindak berlebihan kepada anaknya.

Salah satu di antaranya seperti sebuah peristiwa yang baru-baru ini terjadi. Seorang ayah di Surabaya tega menganiaya anaknya sendiri yang masih bayi hingga tewas.

Kejadian tersebut terjadi di rumah Panji, di Ploso Timur gang VI A nomor 32 Surabaya. Bayi berinisial GO tersebut tewas diduga lantaran dianiaya ayahnya sendiri. GO merupakan anak dari Sri Mulyani (28) dan Panji (30).

"Dugaannya dianiaya karena terluka di bagian kepalanya. Karena gak ada yang tahu awalnya waktu kejadian, tahunya sudah gak tertolong," ujar Dedi Rahmanto, Ketua RT V RW IX Ploso, Tambaksari, Surabaya.

Kejadian itu diawali kunjungan seorang keluarga yang merupakan tante dari bayi tersebut. Dikatakan Ketua RT setempat, Dedi Rahmantio seorang wanita yang merupakan kakak ipar istri pelaku menjadi saksi kejadian tersebut.

"Awalnya saudara istri pelaku yang tahu. Jadi kebetulan main ke sini, tiba-tiba tahu bayi itu telungkup. Kepalanya terluka," ujar Dedi.

Sore itu sekitar pukul 18.00 WIB, saksi kemudian meminta tolong warga. Tetapi, kemudian dikejar oleh pelaku yang adalah ayahnya sendiri, Panji (30).

"Di rumah itu cuma ada Pak Panji dan anaknya. Istrinya kerja. Saksi minta tolong ke warga," tambah Dedi.

Namun naas, bayi tersebut sudah tak tertolong. Melihat kejadian tersebut warga kemudian mengamankan Panji.

"Sekitar jam 18.30 WIB, Panji diringkus. Warga nolong anak itu, langsung dilarikan ke RS Unair. Kami langsung lapor polisi," ujar Dedi.

Dedi juga menambahkan, Panji dikenal kerap bertengkar dengan istrinya.

"Tahun lalu sering tengkar. Katanya juga akhir-akhir ini juga tengkar," tambahnya.

Saat kejadian, warga tampak heboh di gang rumah korban. Sejumlah polisi turut berada di lokasi. Saat ini, rumah pelaku yang berada di Jalan Ploso Timur Gang VI A Tambaksari, Surabaya, tersebut masih dipasang garis polisi.

Panji (30) yang diduga menjadi pelaku penganiayaan kepada buah hatinya sendiri ini dikenal kerap berselisih paham dengan keluarga. Warga Jalan Ploso Timur Tambaksari ini dikatakan tetangganya kurang dapat berbaur.

"Kurang berbaur. Jarang juga sapaan dengan warga. Warga juga takut ya karna sering depresi dan agresif itu," ujar Wakil Ketua RT setempat, Edi Suparto (42).

Ia juga mengatakan pada bulan Oktober 2017, Panji sempat diperiksa polisi Tambaksari.

"Sudah pernah dilaporkan dan diperiksa di Polsek Tambaksari. Warga sekitar mengetahui ini beperilaku kasar. Dia (Panji) sering menghajar anak dan istrinya," tambahnya.

Bahkan warga setempat juga mengaku kurang mengenal tetangganya yang sudah tinggal selama satu tahun tersebut.

"Iya ini rumahnya gelap karna memang dicabut setahun lebih ga bayar listrik. Mereka juga ga terdaftar di kelurahan," ujarnya.

Kejadian yang kemudian menewaskan anaknya itu diakui warga tak tahu awal mulanya.

"Nggak ada yang tau karna yang di rumah hanya bapak dan anak itu. Tahu tahu saudaranya sudah minta tolong karna ponakannya nggak gerak dan terluka," tambah Edi.

 

Pengakuan Mengejutkan Dari Sang Ayah

Panji (33), ayah kandung Gio Rashid Mawardi mengaku mendapatkan bisikan sebelum membunuh bayinya. Ia mengaku jengkel lantaran kebiasaan anaknya yang menangis, apalagi saat susunya habis.

Panji mengaku merasa kesal saat harus menjaga anaknya setiap hari saat istrinya bekerja. Terlebih, bayi usia 16 bulan tersebut terus menangis. Namun saat diberi susu dan habis, si anak menepiskan botol susu.

"Dari pagi sampai malam kok gitu. Bangun tidur nangis, saya kasih susu. Susu habis dibuang, gitu terus. Dari pagi sampai malam," ujarnya sembari mempraktekan tepisan tangan bayinya, Rabu (10/1/2018).

Saat kesal tersebut, Panji sering mendengar bisikan dari sosok tak kasat mata.

"Terus nangis, ada bisikan. Tapi gak kelihatan siapa. Bisikan itu bilang dia (korban) anak gerandong. Sering dengar bisikan terus disuruh begitu (marah)," tambahnya.

"Suaranya tidak kelihatan, wajahnya tidak terlihat, cuma telinga yang mendengar setiap hari seperti itu sampai kemarin itu," ungkapnya dengan santai.

Pria yang bekerja sebagai pengamen ini juga mengelak jika dikatakan menganiaya anaknya hingga tewas dengan cara dibanting.

"Kan jatuh terus, ya jatuh sendiri. Kadang saya maju sedikit tiba-tiba jatuh sendiri, menjatuhkan badannya sendiri. Kebanyakan jatuhnya dari kamar tidur. Tiba-tiba seperti itu, kadang benturin kepalanya sendiri. Dan saya tidak (benturin)," ujar Panji.

Loading...
loading...

Leave a Comment