Cucu Durhaka Pukul Neneknya Hanya Demi Uang

Orang yang sudah berusia lanjut sudah seharusnya mendapat hormat, perawatan dan perlakuan yang lebih baik, terlebih dari anak cucu mereka sendiri. Namun dalam beberapa kasus, ada beberapa orang tua malah mengalami hal yang tragis dari keluarganya sendiri.

Salah satunya dialami oleh Nenek Sarpinah. Perempuan kelahiran 14 Maret 1923 ini telah menempuh usia 94 tahun. Ia mengalami hal yang tak pernah ia duga sebelumnya dari cucunya sendiri.

Peristiwa nahas tersebut terjadi pada pukul 04.00 WIB, Selasa, (5/12) lalu. Cucunya yang bernama Ali mengetuk pintu rumah nenek Sapinah, setelah pintu dibuka dia malah mendapat pukulan dari Ali, yang lalu mengambil uang dan pergi.

Ali, si cucu durhaka yang menganiaya Nenek Sarpinah itu kini masih diburu polisi. Tak diketahui di mana rimbanya kini sosok Ali yang buron bersama tunangannya.

Kanit Reskrim Bekasi Timur, Iptu Yusron, Jumat (8/12) angkat bicara terkait kasus yang menimpa nenek Sarpinah, perempuan berusia 94 tahun yang menjadi korban curas (pencurian dan kekerasan) dari cucunya sendiri, Ali.

"Pertama saya mau media jangan menggunakan kata 'perampokan' terkesan heboh banget. Dan seperti terjadi antara dua orang yang tidak saling mengenal. Sedangkan kasus ini kan masalah keluarga, meski akan ada pidana kami akan fasilitasi jika mereka menginginkan musyawarah," ujar Iptu Yusron. 

Pelaku pemukulan swafoto di Tangkuban Parahu

Pelaku pemukulan swafoto di Tangkuban Parahu (Foto: Dok. Keluarga)

Sampai saat ini, Yusron masih melakukan pendalaman dan pengejaran terhadap sang buronan, Ali.

"Dari keterangan yang kami himpun, dia tidak ada masalah kejiwaan, hanya butuh uang untuk persiapan hidup berkeluarga, kemudian stres dan depresi nah terjadilah," ujar Yusron.

Sejauh ini pihak reskrim Polsek Bekasi Timur sudah mengalami pendalaman TKP, termasuk menyisir beberapa rumah warga untuk mendapatkan info tambahan.

"Kami tanam beberapa anggota di sana, tapi ketika dilacak susah karena kontaknya mati dan hilang semua," ujar Yusron.

Kasus ini sendiri telah menjadi prioritas dari Kepolisan Metro Bekasi, bahkan wali kota dan Kapolres pun sempat mengunjungi nenek Sarpinah di rumah sakit tempo hari.

"Tetap, kasus ini jadi prioritas kami, karena atensi dari media juga besar, terlebih Pak Wali Kota sendiri sudah turun langsung bertemu dengan korban," terang Yusron.
Pelaku ini nantinya akan dikenai pasal 365 KUHP, dengan ancaman penjara selama 9 (sembilan) tahun lamanya.

 

Ali adalah cucu Nenek Sarpinah dari putri keduanya. Sarpinah memiliki empat anak.
Penganiayaan yang dilakukan si cucu tak tahu diri ini, menurut Nukwanti, salah satu menantu Nenek Sarpinah, terjadi pada Selasa (5/12) pagi.

"Nek Sarpinah kan emang tinggal dikelilingi cucu ya, di sekitar rumah sini emang cucu dan anaknya semua yang tinggal. Hari Selasa subuh itu, Ali datang ketok pintu, ya namanya cucu kan ya dibukainlah sama Nenek. Begitu dibuka, si Nenek langsung dihujani pukulan pakai batu bata sama si Ali," ujar Nukwanti menahan tangis saat ditemui di Bekasi, Jawa Barat.

Nukwanti sebelumnya tidak mengira si Ali bisa berlaku sekeji itu kepada mertuanya yang sudah berada di usia sangat senja.

"Dia berbahaya, Mas, nekat, dulu juga pernah kejadian 6 tahun lalu, uang Rp 10 juta saya dicuri," timpal Burhanudin, suami dari Nukwanti, yang merupakan anak ketiga Sarpinah.

Sebenarnya, pihak keluarga telah memaafkan semua kesalahan yang pernah Ali lakukan di saat yang lalu, namun dengan kejadian tersebut, pihak keluarga kini merasa ketakutan dengan keberadaan Ali yang belum diketahui sejak kejadian.

"Terus terang, Mas, kami sekeluarga takut, kan dia oran nya nekat. Saya berpesan sama anak-anak saya, kalau di jalan ketemu si pelaku ini, usahakan secepatnya menghindar, saya cuma takut anak saya kenapa-kenapa, disandera misalnya," ujar Nukwanti bergidik.

Ali diduga oleh keluarga tega melakukan aksinya atas dasar motif ekonomi. Ali tengah berencana menikahi gadis pilihannya, yang sudah ia lamar sejak bulan lalu.

"Mungkin dia ada kebutuhan mendesak untuk menikah, bulan lalu saya sendiri beserta kedua orang tuanya dan majikannya mengantar Ali dalam prosesi lamaran. Dan di mobil mas, sudah saya tekankan padanya, untuk bekerja yang baik dan benar, hidup lurus, karena kini sudah ada orang yang mau memberinya kepercayaan. Persis sebulan lalu saya berkata demikian," kenang Nukwanti.

Kondisi nenek Sarpinah

Kondisi nenek Sarpinah (Foto: Andreas Ricky Febrian/kumparan)

Ali bekerja di sebuah usaha laundry yang dikelola oleh seorang pegawai pemda di daerah Kampung Rambutan, Jakarta Timur.

Keluarga telah menyerahkan semua kasus ini kepada pihak kepolisian, agar semuanya diusut tuntas.

Sedangkan ketika ditanya perihal kemungkinan mediasi, Nukwanti menolak tegas. "Dia berbahaya, Mas, biar kapok sekalian, semalam setelah kejadian dan Ali belum bisa ditemukan, kami sekeluarga enggak bisa tidur," ujar Nukwanti.

Nada pengampunan justru sempat diucapkan oleh Nenek Sarpinah sendiri. "Ali di mana, sudah ketangkep belum? Kalau ketangkep kasihan juga dia nanti dipenjara," ujar Nukwanti menirukan kata-kata ibunya.

Di lain sisi, orang tua dari Ali justru berharap tertangkapnya Ali bisa menjadi pertobatan baginya. Tiga hari berselang setelah penganiayaan itu, Ali dan kekasihnya juga tak kunjung ditemukan.

"Hari Selasa siang, kami dan Buser Polres Bekasi mencoba mencari Ali ke rumah tunangannya, rupanya Ali juga mengajak tunanganya pergi. Jadi malah kaget ortu tunangannya," ujar Nukwanti.

Pihak keluarga pun sampai saat ini masih berusaha mencari keberadaan Ali. Namun, mereka masih tetap waspada jika saja Ali kembali untuk melakukan hal nekat lainya.



Loading...
loading...

Leave a Comment