Harap Maklumi Mengapa Ibu Rumah Tangga Kerap Marah-marah, Inilah Jawabannya

Hari ini ibu-ibu di seluruh Indonesia seharusnya berbahagia. Karena Hari Ibu di Indonesia diperingati tiap 22 Desember setiap tahunnya. Sebenarnya tidak perlu menunggu tanggal 22 Desember untuk menunjukkan rasa terima kasih ke ibu, namun hari ini tetap dianggap sebagai perayaan untuk mengingat semangat, kasih, cinta ibu-ibu kepada anak-anaknya.

Ibu selalu menempati posisi sangat penting dalam hidup tiap anak manusia hingga negara memberikan hari khusus tiap 22 Desember sebagai Hari Ibu. Bahkan, ibu dan beberapa agama juga ditempatkan di posisi yang tinggi, seperti agama Islam yang meminta kepada semua umat untuk memuliakan ibunya. 

Bahkan, ada hadist yang menyebutkan kepada siapa utamanya berbakti, maka Rasulullah mejawab ibu sampai tiga kali, baru ayah.

Namun, dalam keseharian, seorang ibu bisa saja berbuat hal-hal yang tidak mengenakkan, karena lahiriahnya sebagai manusia, satu contoh adalah marah-marah.

Secara umum, jangan pernah ragukan besarnya rasa cinta para istri pada suami dan anaknya, tapi kesal dan marah kerap tetap tak terhindarkan, apalagi jika sudah punya anak.

Rata-rata para ibu rumah tangga kesal karena menganggap suami kurang membantu mengasuh anak atau mengurus rumah tangga dan pekerjaan rumah.

Sebuah survei online yang pada lebih dari 1.000 ibu, terungkap sebagian besar ibu mengaku sering merasa marah pada suami mereka.

Ada yang marah beberapa kali dalam seminggu, ada pula yang marah hampir setiap hari!

"Saya mencintai suami saya, tetapi punya anak telah mengubah hidup saya, membuat saya kehabisan energi, tapi suami seolah tidak terlalu peduli dan membantu," ungkap para ibu yang disurvei itu, seperti dilansir dari parenting.

Adapun alasan utama bikin para ibu kesal, suami tidak paham kebutuhan dasar anak-anak. Misalnya, di rumah para ayah kerap bersantai-santai menonton televisi dan tidak mendengar rengekan anaknya yang ingin mengajak main di luar.

Para ibu ini juga kesal karena suami tidak bisa melakukan beberapa tugas pada satu waktu seperti yang dilakukan para ibu.

Ada 33 persen ibu ketika disurvei mengatakan, sumber kemarahan mereka para suami kurang peduli pembagian tugas rumah tangga dan pengasuhan anak.

Nah, kemarahan ini dirasakan paling besar pada ibu yang memiliki anak lebih dari dua orang.

Sedangkan sepertiga para ibu mengeluh rutinitas hidup mereka berubah banyak setelah memiliki anak.

Namun hal itu tidak terjadi pada suami mereka, para ayah ini tetap bisa melakukan hobi mereka, sementara para ibu harus lebih banyak tinggal di rumah untuk mengasuh anak.

Padahal, kemarahan meski kecil, menurut pakar sosiologi Pepper Schwartz, bersifat korosif dalam pernikahan.

"Ini seperti rayap yang akan berkembang biak menjadi sangat banyak. Jika rayap itu tak disingkirkan, suatu hari nanti tiang penyangga rumah tangga juga bisa lapuk," katanya.

Rasa marah juga bisa meledak kapan saja. Jangan heran jika Anda merasa sangat marah pada suami hanya karena ia lupa mematikan lampu kamar mandi. "Itu merupakan bentuk dari rasa marah yang selama ini sedikit-sedikit dirasakan," katanya.

Menyimpan marah juga buruk bagi kesehatan. Saat kita marah, tubuh akan dibanjiri adrenalin. Jika ini sering terjadi, tubuh akan kehilangan kemampuan memproduksi hormon yang menahan efek buruk adrenalin.

Dalam jangka panjang hal ini bisa berdampak pada kesehatan jantung dan pembuluh darah, mengganggu ginjal dan liver, dan membuat kita rentan depresi.

Salah satu cara untuk melepaskan kemarahan adalah dengan bercerita dengan orang lain. Bisa dengan teman yang juga sudah menjadi ibu, dengan orangtua, dan tentunya dengan suami sendiri.

Nah sekarang Anda sudah mengerti kan mengapa kaum ibu sering marah-marah, dan mengapa hal itu perlu dilampiaskan. Biarkan mereka mengungkapkan apa yang menjadi keberatan dan harapan mereka. Dan bagi para suami wajib mengerti apa yang menjadi keinginan istri mereka demi kebahagiaan bersama.

Selamat hari Ibu!

Loading...
loading...

Leave a Comment