Ini Dia Duta, Remaja yang Daftar Sekolah Pakai Uang Receh Tabungan Sejak SD

Eka Duta Prasetya (15) kini bisa tersenyum sumringah. Siswa kelas 8 MAN 1 Kota Magelang itu tak perlu khawatir tak bisa bayar sekolah, karena semua biaya pendidikan hingga dia lulus sudah ditanggung pihak sekolah.
 
Kisah Duta, panggilan akrab Eka Duta Prasetya yang membayar biaya sekolah dengan tumpukan uang recehan viral. Foto Duta sedang membayar biaya sekolah dengan uang receh yang diunggah oleh akun Facebook Yuni Rusmini mendapat lebih dari 12 ribu komentar dan dibagikan 16 ribu kali.
 
"Kisah inspiratif siswa akan semangat sekolah dari Magelang. Anak ini bikin banyak orang mbrebes karena tersentuh akan tekad dan semangatnya untuk bisa sekolah," tulis Yuni 20 Juni kemarin.

MAN 1 Kota Magelang, Jawa Tengah, akhirnya membebaskan biaya seragam Eka Duta Prasetya (16) setelah mengetahui Duta mengumpulkan uang Rp 1.000 sejak sekolah dasar (SD) agar bisa melanjutkan sekolah.

Uang receh senilai Rp 1 juta milik Duta dikembalikan lagi dalam bentuk tabungan di Bank BRI Unit Payaman, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang.

"Uang Rp 1 juta yang tadinya untuk seragam kami kembalikan, tapi dalam bentuk tabungan, supaya bisa digunakan Duta untuk kebutuhan yang lebih penting. Sementara uang seragam sudah kami bebaskan," kata Kepala MAN 1 Kota Magelang, Kasnawi, Rabu (21/6/2017).

Selain itu, remaja asal Desa Ngadirejo, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang itu tidak akan dipungut biaya pendidikan.

Semangat belajar yang tinggi serta ketekunan Duta membuat sekolah mengambil kebijakan itu.

"Biaya jangan menjadi kendala untuk sekolah. Yang penting, anak masuk dulu dan nanti akan dibina."

"Karena anak ini memiliki akhlak yang baik, semangatnya tinggi, nilai akademis tidak menjadi soal," ucapnya.

Agung Dwi Lasmono, guru MAN 1 Kota Magelang menambahkan, Eka Duta Prasetya berasal dari keluarga kurang mampu.

Dia tinggal di rumah kontrakan bersama ayah dan seorang nenek, sekitar 10 kilometer dari MAN 1 Kota Magelang.

"Kami sudah survei ke rumahnya, kami tanya ke tetangga-tetangganya, dan benar memang Duta layak diberi kemudahan pendidikan. Biar uangnya digunakan untuk kebutuhan sehari-harinya," tutur Agung.

Selain tekun, lanjut Agung, Duta dikenal sebagai anak yang berbudi pekerti luhur dan shaleh.

Dia sering mengumandangkan azan dan mengaji di masjid dekat rumahnya. Duta pun begitu menyayangi keluarga, terutama nenek dan ayahnya yang tinggal serumah.

Bahkan, uang tabungan Duta sering dipakai untuk keperluan berobat sang Nenek yang sedang menderita sakit komplikasi.

"Di lingkungan rumah, Duta itu aktif ke masjid, kalau tadarus juga rajin," tutur Agung yang selalu mendampingi Duta.

Setelah foto Duta viral di media sosial sejak Selasa (20/6/2017), banyak yang menaruh simpati kepada remaja itu.

Duta tidak perlu lagi bersedih karena kesulitan biaya pendidikan. Para guru di MAN 1 Kota Magelang dan banyak pihak yang membantunya.

"Ada yang bersedia menjahitkan seragam Duta, ada yang memberi bantuan dana, dan lain sebagainya. Kami berharap kisah Duta menjadi inspirasi masyarakat terutama anak-anak remaja," tuturnya.

Hariyadi, Kepala BRI Unit Payaman, mengemukakan bahwa tabungan "recehan" sudah atas nama Duta sendiri.

Menurutnya, Duta kini bisa menabung di bank atau bisa mengambil tunai tanpa harus membuka celengan (kaleng kue).

"Duta sekarang tinggal ke sini (BRI Unit Payaman) kalau mau nabung ya, kalau kesulitan langsung ketemu saya ya. Saya pasti bantu," tandas Hari.

Eka Duta Prasetya mengaku bahagia bisa mempunyai tabungan sendiri. Dia berterimakasih kepada pihak sekolah dan warga yang telah membantu biaya pendidikannya. Dia juga berjanji akan belajar dengan baik agar tidak mengecewakan semua orang yang telah membantunya.

"Saya senang, bersyukur sekali sama Allah, karena banyak yang membantu. Sekolah juga menerima saya," ujar alumnus MTs Kota Magelang yang bercita-cita menjadi pakar teknologi informatika itu.

Duta merupakan remaja asal Desa Ngadirejo, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang. Siswa lulusan Mts Negeri Kota Magelang ini mendaftar sekolah ke MAN 1 Kota Magelang dengan menggunakan uang receh yang ditabungnya sejak kelas 6 SD.
 
"Dari kelas 6 SD kumpulin uangnya. Ada 3 celengan, yang difoto itu uangnya ada Rp 1,5 juta," kata Duta saat dihubungi kumparan, Kamis (22/6/2017).
 
Tabungan tersebut dikumpulkan Duta dari uang saku sehari-hari. Dalam sehari, Duta biasa menabung Rp 1.000 hingga Rp 7.000. Uang yang ditabungnya memang berbentuk recehan koin karena ayah Duta seorang tukang parkir sehingga sehari-hari uang jajannya selalu recehan.
 
Menabung selama 4 tahun harusnya uang yang terkumpul bisa lebih dari Rp 1,5 juta, namun ternyata uang tabungan Duta sering dia berikan untuk berobat neneknya yang sakit.
 
"Ayah kerja jadi tukang parkir. Ibu sudah lama pisah. Tinggal di rumah sama nenek dan ayah saja," ucap Duta yang hobi main bola ini.
 
Siswa kelahiran 1 Juni 2011 ini mengaku awal mula menabung untuk membeli laptop. Namun ternyata dia membutuhkan uang untuk melanjutkan sekolahnya.
 
"Awalnya nabung itu buat beli laptop. Tapi kata ayah bilang ilmu agama itu lebih penting jadi kamu sekolah di MAN saja. Kata ayah kalau ilmu agama sudah dapat, harta benda yang ada di dunia ini entah dari mana mesti bisa ngikutin nanti," ujarnya.
 
Duta lalu membongkar celengannya dan mendaftar ke MAN 1 Kota Magelang. Awalnya dia tak enak hati harus membayar biaya sekolah dengan uang recehan.
 
Duta sempat menukarkan uang tersebut, namun tetangganya tidak ada yang mau. Akhirnya dia memberanikan diri datang ke sekolah membawa tumpukan uang receh hasil tabungannya.
 
Agung Dwi Lasmono, guru MAN 1 Kota Magelang yang saat itu bertugas menerima pendaftaran siswa baru mengatakan sengaja memotret Duta dengan uang recehnya. Dia ingin memberikan contoh semangat Duta kepada guru dan murid di sana.
 
"Saya foto itu cuma iseng aja untuk memotivasi rekan-rekan guru, ada anak yang tidak mampu harus kita bina sampai berhasil," ucap Agung saat dihubungi kumparan.
 
Agung menjelaskan pendaftaran di MAN itu sebenarnya gratis namun uang seragam bayar. Saat itu Duta datang untuk membayar seragam sekolah Rp 925 ribu. Uang receh itu lalu "disimpan" sekolah.
 
Sehari setelah itu, pihak sekolah survei ke rumah Duta. Dia tinggal di rumah kontrakan yang jaraknya sekitar 10 km dari sekolah, keluarga Duta juga termasuk keluarga tidak mampu.
 
Di lingkungan rumah, Duta dikenal sebagai anak yang baik dan soleh. Dia rajin mengaji di masjid dan mengumandangkan azan.
 
Melihat kondisi Duta, sekolah lalu memberikan beasiswa. "Pihak sekolah mengambil kebijakan untuk membebaskan dari segala biaya apapun juga sampai lulus," ucapnya.
 
Uang receh Duta dikembalikan. Pihak sekolah juga membantu Duta membuat rekening sendiri untuk menyimpang uang recehnya.
 
Duta mengaku senang bisa mendapat beasiswa. Dia mengucapkan terima kasih karena banyak orang yang membantunya. "Ya saya bersyukur," katanya.
 
Bukan hanya itu, Duta kini banyak dicari awak media untuk wawancara. Meski begitu Duta tetap merasa tidak ada yang istimewa pada dirinya.
 
"Biasa saja, kata ayah kalau kamu jadi tenar itu bukan kebanggaan, itu cuma ngetes kamu jadi anak yang rendah hati atau jadi sombong gitu," ucapnya.

Rajin Puasa Senin-Kamis, Biasa Hidup Prihatin sejak Kecil

Foto Duta saat mendaftar sekolah di MAN 1 Kota Magelang cepat tersebar di media sosial. Tampak dia berhadapan dengan salah seorang petugas penerima siswa baru MAN 1 Kota Magelang. Di atas meja tertumpuk ribuan koin yang digunakannya untuk membayar biaya pendidikan. Tak pelak, sang petugas pun dibuat sibuk menghitung uang logam tersebut dari satu per satu.

Ketika itu Duta yang mengenakan seragam madrasah tsanawiyah (MTs) terpekur menyaksikan petugas di depannya sibuk menghitung koin.

Uang tersebut merupakan hasil jerih payah Duta mengumpulkan sisa uang saku selama empat tahun. Total terkumpul Rp 7 juta, semuanya koin logam.

Duta juga membiasakan berhemat dengan rajin puasa Senin-Kamis. Terlebih, tabungannya tak selalu hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Saat sang ayah atau nenek butuh duit, Duta tak segan mengambil uang recehan miliknya. Terutama untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mendesak.

Pernah suatu kali Duta harus merogoh toples tabungannya untuk biaya berobat neneknya yang mengidap komplikasi gula dan darah tinggi. Ayah Duta juga kerap telat bayar tagihan air, sehingga dia pula yang harus melunasinya.

Bahkan, kontrakan rumah yang dihuninya saat ini tak bisa diperpanjang lagi karena hendak dijual oleh si pemilik.

Meski hidup di tengah suasana serba pas-pasan, semangat Duta menuntut ilmu tak pernah patah. Demi menggapai cita-citanya menjadi pengusaha dan penghapal Alquran (hafiz).

Setiap berangkat ke sekolah Duta juga selalu membawa bekal sendiri dari rumah. Masakan sang nenek, yang selalu berpesan kepada Duta untuk rajin mengencangkan ikat pinggang.

“Lebih baik untuk melanjutkan sekolah dulu. Rezeki bisa dicari. Mencari uang gampang tapi mencari pendidikan itu susah,” tutur Sutiyah.

Duta biasa hidup prihatin sejak kecil. Hal itu tak lepas peran nenek dan orang tuanya. Saat teman sebayanya sembunyi-sembunyi merokok, Duta tidak boleh ikut-ikutan. Selain karena alasan ekonomi, Duta terjangkit penyakit paru-paru sejak kecil. “Syukur penyakitnya kini sudah membaik,” ungkap Sutiyah.

Duta juga dididik untuk bersungguh-sungguh dalam berdoa. Tak jarang, Sutiyah membangunkan Duta saat tertidur lelap tengah malam untuk salat Tahajud.

Sutiyah masih ingat betul perjuangan Duta selama di MTs. Suatu ketika sepulang sekolah kehujanan seragamnya basah kuyup. Karena hanya memiliki sepasang seragam, baju basah itu segera dikeringkan supaya bisa dipakai lagi keesokan hari.

“Ketika musim hujan pulang sekolah selalu kehujanan. Kasihan saya melihatnya,” ucapnya.
Di mata tetangga, Duta dikenal sebagai sosok yang santun. Duta juga razin menjadi muazin di masjid dekat rumahnya. Bahkan, tanpa sepengetahuan orang tuanya, Duta pernah menjadi juara lomba azan di kampungnya.

“Tiap malam juga rajin kumpul di masjid untuk ikut tadarus,” ungkap Ibu Tukiman, tetangga Duta.

Ibu paro baya itu sangat salut dengan tindak-tanduk Duta. Terlebih, Duta tak punya rasa malu untuk berusaha. Seperti yang biasa dilakukan selama sekolah di MTs. Duta terbiasa membawa makanan kecil dari rumah untuk dijual kepada teman-temannya.

“Beli snack di warung dekat rumah, lalu dijual lagi. Ia hanya mengambil untung sedikit,” ungkap Ibu Tukiman.

Melihat semangat Duta, manajemen MAN 1 Kota Magelang pun sangat apresiatif. Bahkan, pihak sekolah membuatkan rekening bank untuk tabungan Duta. “Uang Rp 1 juta yang seharusnya untuk beli seragam kami masukkan ke rekening Duta,” ungkap Kepala Sekolah MAN 1 Kota Magelang Kasnawi.

Lebih dari itu, Duta mendapat garansi sekolah gratis selama menempuh pendidikan di MAN 1. Pihak sekolah berkomitmen tak akan memungut biaya pendidikan.

“Saya sendiri kaget karena anak umur segini semangatnya luar biasa. Peristiwa ini menjadi cerita inspiratif bagi siswa lain,” ujarnya.

Bagi Kasnawi, meski masih belia, Duta telah menyiapkan masa depannya dengan baik. 

Loading...
loading...

Leave a Comment