Ngebet Pengen Nikah Tapi Belum Ada Mahar? Jangan Pusing, Ikuti Trik Ini!

Sejatinya pernikahan itu bukanlah sebuah transaksi jual beli, melainkan sebuah bentuk kemitraan karena baik suami maupun istri sama-sama mendapatkan manfaat dari intitusi pernikahan tersebut. Sehingga, jangan mempersulit pernikahan dengan mahar yang selangit, sebab mahar bukan sebagai alat tukar untuk memiliki istri yang sebelumnya berada pada tangan wali.

Dilain pihak, calon suami juga jangan mencari-cari alasan agar bisa terbebas dari kewajiban membayar mahar. Sebab yang namanya mahar adalah pemberian yang wajib diberikan oleh suami kepada istrinya berupa harta ataupun sesuatu yang bernilai, berapapun nilainya.

Bagi yang hendak menikah namun masih terkendala persoalan mahar jangan pernah berkecil hati namun tetap berusaha dan berdoa, jika ada kemauan insyaAllah ada jalan keluarnya. Berikut beberapa tips yang semoga saja bermanfaat:

1. Menabung dan Hemat
Gaya hidup hemat, dan membiasakan diri untuk menambung merupakan langkah nyata dalam rangka mengumpulkan mahar. Sisihkan sedikit penghasilan yang nantinya bakal berguna sebagai mahar. Serta budayakan hidup hemat, dan hindari menghambur-hamburkan harta untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.

2. Bersedekah
Ada banyak hikmah dibalik sedekah, Allah Ta'ala melipat gandakan sedekah sampai 700 kali ganda. Allah Ta’ala berfirman:
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki . Dan Allah maha luas (kurnia-Nya) lagi maha mengetahui” . (Qs. Al Baqarah (2) : 261)

Dengan bersedekah rezki akan lebih berkah, biarpun tidak berpenghasilan yang tinggi insyaAllah akan selalu berkecukupan.

3. Hafal Quran
Pada masa Rasulullah pernah terjadi suatu ketika ada sahabat yang ingin menikah namun terkendala mahar, berikut riwayat detail kisah tersebut:

Dari Sahal bin Sa'ad bahwa nabi SAW didatangi seorang wanita yang berkata,"Ya Rasulullah kuserahkan diriku untukmu", Wanita itu berdiri lama lalu berdirilah seorang laki-laki yang berkata," Ya Rasulullah kawinkan dengan aku saja jika kamu tidak ingin menikahinya". Rasulullah berkata," Punyakah kamu sesuatu untuk dijadikan mahar? dia berkata, "Tidak kecuali hanya sarungku ini" Nabi menjawab,"bila kau berikan sarungmu itu maka kau tidak akan punya sarung lagi, carilah sesuatu". Dia berkata," aku tidak mendapatkan sesuatupun". Rasulullah berkata, " Carilah walau cincin dari besi". Dia mencarinya lagi dan tidak juga mendapatkan apa-apa. Lalu Nabi berkata lagi," Apakah kamu menghafal qur'an?". Dia menjawab,"Ya surat ini dan itu" sambil menyebutkan surat yang dihafalnya. Berkatalah Nabi,"Aku telah menikahkan kalian berdua dengan mahar hafalan qur'anmu" (HR Bukhari Muslim).

Secara zahir, ada yang memahami bahwa berdasarkan hadist tersebut boleh memberikan mahar berupa hafalan quran, dan hal ini memang wajar, bahkan belakangan sering dijumpai pasangan yang menikah dengan mahar hafalan quran.

Namun demikian kita tidak boleh terburu-buru dalam mengambil kesimpulan terhadap hadist di atas, sebab dalam beberapa riwayat yang lain disebutkan pula bahwa Rasulullah SAW bersabda :

Nabi SAW bersabda, “Pergilah, sungguh aku telah menikahkan kamu dengannya, maka ajarilah dia dengan Al-Qur’an”. (HR Muslim)

Sehingga ketika kita pahami secara utuh terhadap keseluruhan dalil, maka yang dijadikan mahar bukan sekedar setor hafalan Al-Quran di majelis akad nikah, akan tetapi mengajarkan Al-Quran berikut dengan ilmu-ilmu yang terkandung di dalamnya.

Kemudian, andaipun mau memberi mahar berupa hafalan Al-Quran, maka hal tersebut posisinya harus diletakkan pada pilihan terakhir, sebelumnya tetap berupaya memberikan harta walaupun ukurannya sangat kecil, jika itu semua tidak sanggup barulah beralih dengan hafalan quran.

Jadi bagi yang hendak menikah namun masih belum cukup modal secara materi, kita bisa mempersiapkan diri dengan mempelajari al-quran dan meningkatkan hafalan. Sebab, orang berilmu mendapatkan derajat yang tinggi disisi Allah Ta'ala, sehingga bukan tidak mustahil dengan ilmu yang dipunya bakal menjadi washilah terhadap datangnya rezki.



Loading...
loading...

Leave a Comment