Potret Gadis Manis Renika, Atlet Prestasi Jadi Tukang Sapu Taman Paling Nge-Hits

Ni Putu Renika Sari (25) gadis manis ini selalu membuat pandang mata orang-orang takjub tatkala jari-jari kokohnya mencengkram di laga panjat tebing. Hingga Dia rekan-rekan sejawatnya menjulukinya Tarantula Jembrana. Ironisnya wanita asal Lingkungan Sawe, Kelurahan Dauhwaru,Jembrana, Bali, kini menjadi tukang sapu.

Di tengah keberhasilannya mendulang prestasi di tingkat Asia sebagai atlet panjat tebing, dia justru berkutat dengan sampah sebagai tukang sapu di taman rekreasi Gedung Kesenian Bung Karno milik Pemkab Jembrana, Bali.

Padahal prestasi tingkat Asia yang diraih Renika ini pernah mewakili Kabupaten Jembrana dan mengharumkan nama Bali sekaligus membawan nama negeri ini di tingkat internasional.

"Seperti inilah potret dari nasib atlet kita pak," celetuk seorang tukang ojek yang biasa mangkal di Taman Kesenian Bung Karno, Rabu (23/12).



Segudang mendali bahkan di kejuaraan regional Asia. Bahkan saat Asia Youth Cup tahun 2009 silam di Denpasar, dia berhasil meraih satu mendali emas dan satu mendali perunggu.

"Saya sangat bersyukur diberikan pekerjaan oleh Pemkab Jembrana, walau hanya sebagai tukang sapu taman. Karena masih banyak mantan atlet berprestasi lainnya belum punya pekerjaan," ujar Renika Sari, terlihat tegar sambil tersenyum.

Katanya, Pemkab Jembrana memberikannya pekerjaan sebagai tenaga kontrak kebersihan sejak tahun 2014. Sebelumnya dia bekerja sebagai tenanga serabutan yang penghasilannya tidak lebih Rp 50 ribu per hari.

Alumni SMA Negeri 1 Negara ini yang tinggal bersama ibunya dan numpang di rumah milik neneknya ini, memiliki semangat dan tekad yang kuat sebagai tulang punggung keluarga walau penghasilannya sebagai tukang sapu tak lebih dari Rp 1 juta per bulan.



"Penghasilan itu saya rasa cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bersama ibu saya," kata anak Ni Luh Sukermi, seorang penjual canang (bunga) di pinggir jalan.

Walaupun setiap pagi dan sore menyapu di lahan yang cukup luas itu, dia tetap berusaha membagi waktu untuk fokus latihan memanjat.

Dia mengaku sangat jarang ada waktu bermain seperti remaja lainnya, karena setiap hari harus bekerja. Pulang kerja sekitar pukul 16.00 WIB, dia biasanya latihan bersama belasan atlet lain di Stadion Pecangakan-Jembrana hingga pukul 21.00 Wita. Dia juga mengajar memanjat kepada junior.

Bahkan dia mengakui jika dia mengikuti pertandingan ke luar daerah, untuk beberapa hari pekerjaan menyapu digantikan ibunya.

Anak tunggal ini tidak malu melakoni pekerjaan sebagai tukang sapu di tempat keramaian. Dia mengaku sebagai atlet hanya memperoleh bonus saat masih aktif.

Kecintaannya terhadap olah raga panjat tebing ini berawal dari ekstra kulikuler siswa pecinta alam. Dia mengaku tidak memilih-milih pekerjaan.



Loading...
loading...

Leave a Comment