Pria Ini Tega Meracuni Bayinya Sendiri Karena Ibunya Tak Mau Pulang

Masalah rumah tangga kembali menelan korban jiwa. Kali ini bayi berusia 14 bulan bernama Kaisar Alfikar harus meninggal akibat diracun ayahnya sendiri, Taufik (27). Kaisar meninggal saat mendapat perawatan di Rumah Sakit Umum daerah (RSUD) Waled Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Direktur RSUD Waled Budi S Soenjaya mengatakan sebelum meninggal Kaisar sempat bertahan selama tiga jam di RSUD Waled. Namun, menurut Budi, racun yang ditenggak Kaisar membuat organ dalam bayi berusia 14 tahun itu rusak parah.

"Itu meninggal karena racunnya sudah masuk ke dalam tubuh. Sempat bertahan selama tiga jam di rumah sakit. Namun, karena masih bayi, organ dalamnya masih sensitif, berbeda dengan orang dewasa," ucap Budi di RSUD Waled Cirebon, Senin (8/1/2018).

Lebih lanjut, Budi mengatakan saat ini kondisi ayah Kaisar, Taufik masih dalam perawatan. Rencananya, Taufik akan menjalani pemeriksaan endoskopi untuk memeriksa bagian dalam organ tubuhnya.

Kaisar Alfikar, bayi berusia 14 bulan asal Cirebon ini menjadi korban kebiadaban ayahnya, Taufik (27). Sebelum menemui ajal, Kaisar diminumi susu yang sudah dicampur racun tikus oleh ayahnya.

Kasat Reskrim Polres Cirebon AKP Reza Arifian mengatakan Taufik mencampur air susu yang diberikan untuk anaknya dengan racun tikus. "Setelah itu pelaku juga meminum racun. Pasca kejadian keduanya langsung dievakuasi ke rumah sakit," kata Reza.

Reza mengatakan Kaisar meninggal saat dirawat, sedangkan Taufik selamat. Kondisi pria bertato itu saat ini masih muntah-muntah karena menanggak racun.

Dari hasil penyelidikan kepolisian, aksi biadab Taufik disebabkan pertengkaran yang terjadi dengan istrinya, Karis, melalui handphone. Istrinya tengah bekerja di Batam.

"Taufik minta uang ke istrinya dan mengancam jika tidak diberikan akan membunuh anaknya," kata Reza.

Reza mengatakan polisi telah mengamankan sejumlah barang bukti di antaranya sebuah botol susu bayi, botol kemasan air meniral kosong, dua bungkus racun tikus yang sudah kosong, satu bungkus susu bayi yang masih tersisa, satu mangkok dan garpu. "Kita sudah amankan tersangka dan melakukan pemeriksaan terhadap saksi," tutup Reza.

Taufik Mengaku Menyesal

Saat ini kondisi Taufik terbaring lemas dan masih dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Waled Cirebon. Tangan kiri Taufik diborgol dan dijaga salah seorang petugas kepolisian.

Taufik mengaku menyesal karena telah meracuni anaknya hingga tewas. Air mata Taufik menetes saat ditanya soal kejadian pembunuhan dan percobaan bunuh diri yang dilakukannya.

Aksi bejatnya itu ia lakukan karena kesal dan emosi terhadap istrinya, Karis yang saat itu bekerja di Riau. "Kesal sama istri saya. Saya hubungi lewat telepon dan menyuruh istri saya pulang, tapi dia menolak," ucap Taufik seraya mengusap air matanya saat ditemui detikcom di Ruang Dahlia F RSUD Waled Cirebon, Senin (8/1/2018).

Taufik berharap istrinya pulang ke rumah agar kembali mengurus anaknya. Lebih dari dua bulan istri Taufik merantau ke Riau. Pekerjaan istrinya di Riau dinilai Taufik tak pantas. Menurut Taufik, istrinya bekerja di kantin. Namun, Taufik curiga karena foto-foto istrinya selalu di hotel.

"Daripada di sana, kerjanya tuh gak pantas. Kasihan anak saya. Masa dititipin ke orang tuanya saja. Kan di sana (Sukabumi) orang tuanya juga ngurus adik istri saya yang usianya masih dua tahun," ujar Taufik seraya mengelus perutnya.

Taufik mengaku masih merasakan sakit perut akibat menenggak racun tikus. Rasa sakit hati terhadap istrinya yang enggan pulang untuk mengurus anaknya itu menyulud emosi Taufik. Saat berbicara melalui telepon dengan istrinya itu, Taufik sempat mengatakan mendingan mati bersama anaknya karena istrinya sudah tak peduli.

"Waktu itu saya bilang, kamu kan ibunya masa gak mau ngurusin? Dia malah jawab emang lu mampu beliin gua pakaian bagus, tas bagus, dan sepatu bagus? Sakit hati saya. Mendingan mati saja, dia bilang kalau mau mati-mati aja," katanya.

Beli Racun Tikus dari Hasil Penjualan Telepon Seluler

Air mata Taufik terus menetes. Taufik mengingat hari-hari bersama anaknya, Kaisar Alkfikar. Taufik mengaku sebelum meracuni Kaisar, dirinya sempat menjual telepon seluler miliknya untuk membeli racun tikus. "Habis jual handphone, saya langsung beli racun tikus. Mendingan anak sama suami mati saja," ucapnya.

Setelah meracuni anaknya, Taufik pun menenggak racun. Mati bersama Kaisar sebagai bukti tanda sayangnya terhadap anaknya. Dua bulan lebih Taufik bersama Kaisar. Sebelumnya, Kaisar diasuh oleh orang tua istrinya di Sukabumi.

"Saya sayang banget sama anak saya, siang malam saya sama anak terus. Nyesal saya, kalau tidak emosi mungkin tidak bakal jadi seperti ini. Kalau tidak ada kata-kata itu (mau mati, mati aja) dari istrinya gak bakal begini," ujarnya seraya menangis.

Taufik mengatakan Karis, istrinya tega meninggalkan anaknya saat masih menyusui. Karis kerja di Riau diajak oleh temannya. Selama ditinggal sang istri, Taufik mengaku banting tulang untuk menghidupi anaknya. Bahkan Taufik sempat mengamen.

"Saya buka kios pulsa di rumah. Pernah ngamen juga kalau tidak ada kerjaan, terus bekerja juga sebagai kuli bangunan," ucapnya.

Berbeda dengan keterangan Polisi yang mengatakan Taufik meminta kiriman uang dengan mengancam, Taufik malah mengaku sempat menolak saat dikirimin uang dari istrinya. Karena, Taufik menilai uang tersebut didapatkan dari kerjaan yang tak pantas. "Buat apa dikirimin uang haram. Selama ini masih cukup untuk dari kerja dan ngamen," tutup Taufik.

Isak Tangis Sang Ibu

Karis Yunita (18) menerawang, sesekali dia menghapus lelehan air mata dengan jilbab hitam yang dipakainya. Ibunda almarhum bayi 14 bulan bernama Kaisar Alfikar ini tidak menyangka suaminya M Taufik tega menghabisi nyawa putra semata wayangnya itu.

Karis mengaku ancaman pembunuhan terhadap Kaisar sering dilontarkan pelaku sejak dia memutuskan bekerja di Batam, Kepulauan Riau. Namun dia menganggap ancaman itu hanya gertakan, karena menurutnya sesadis-sadisnya harimau tidak akan melukai anaknya sendiri.

"Dia ngancam suruh saya pulang, dia juga sering minta di transfer uang. Kalau saya enggak menanggapi dia ngancam mau bunuh Kaisar," lirih Karis kepada sejumlah wartawan di rumah duka, Kampung Cijambe RT 12 RW 04, Desa Kompa, Kecamatan Parungkuda, Sukabumi, Jawa Barat, Senin (8/1/2018).

Karis kemudian menceritakan saat suaminya menjemput Kaisar pada Kamis (4/1/2018) lalu. Pelaku yang tinggal di Cirebon ini sempat mendatangi kediaman orang tua Karis dengan alasan kangen anak.

"Kaisar kan tinggal sama kakek dan neneknya, sementara dia tinggal di Cirebon. Hari itu dia datang dan bilang mau menengok anak, sorenya dia pamit bawa Kaisar katanya mau ngajak jajan makanan," ujar Karis.

Beberapa jam berlalu, pelaku dan korban tidak kunjung pulang. Bahkan kakek korban sempat mencari ke minimarket terdekat namun korban dan pelaku tidak ditemukan. Sampai akhirnya selang beberapa jam kemudian pelaku memberi kabar jika posisinya berada di Tol Bekasi arah pulang ke Cirebon.

Hal itu juga disampaikan Iwan (45), kakek korban. Dia mengaku sempat mencari dan menghubungi ponsel pelaku namun tidak di respons. "Kamis malam dia baru jawab katanya di tol mau pulang ke Cirebon bawa Kaisar. Saya mikirnya ah dibawa sama bapaknya ini, taunya malah tega ngelakuin itu," sesal Iwan.

Iwan bahkan mengaku sempat meminta istrinya (nenek korban) untuk memberi makan menantunya, saat itu tidak terbersit sedikitpun pikiran jika pelaku berniat jahat terhadap cucunya. "Saya posisinya sedang bekerja, saya minta istri saya buat nyiapin makan. Tidak ada pikiran apapun kalau dia sampai tega mau ngapa-ngapain cucu saya," ujarnya.

Nasi menjadi bubur, Taufik tega menghabisi nyawa putra kandungnya sendiri pada Sabtu (6/1/2018). Sehari sebelumnya ancaman yang sama sempat dilontarkan kepada Karis.

"Dia ancam mau bunuh Kaisar jika saya tidak transfer dan pulang dari tempat kerjaan, saya saat itu sempat curhat ke teman namun semua berpikir ah itu hanya gertakan saja. Tahunya dia benar-benar ngelakuin itu," ujar Karis.

Firasat Kharis

Usia pernikahan Kharis Yunita (19) dengan M.Taupik (27) selama 3 tahun membuahkan seorang bayi mungil yang Sabtu lalu (6/1) menghembuskan nafas terakhirnya di usia 14 bulan. Buah cinta kedua pasangan muda ini berakhir tragis, Bayi mungil tewas setelah diberi racun yang dicampur air susu oleh ayah kandungnya sendiri.

Menurut Kharis sehari sebelum sang buah hati tewas dirinya sempat memiliki perasaan aneh, "ada firasat ga ada selera kaya orang mati rasa aja seharian," ungkapnya kepada TatarSukabumi.ID.

Namun firasat itu ditepis sang Ibu yang saat kejadian pembunuhan sang bayi sedang bekerja mengadu nasib di Batam - Kepulauan Riau.

Setelah mendengar kabar anaknya meninggal, Kharis mengaku sangat terpukul dan shock, "shock tapi mau gimana lagi, meski dia (suami) dihukum berat tidak akan kembalikan anak saya yang sudah meninggal, " terang Kharis.

Kharis mengaku kerap meminta cerai kepada suaminya, "Pengen bisa pisah, cuman dia ga bisa terima dengan alasan yang tidak bisa diceritain,"jelas Kharis.

Sosok suami sekaligus pembunuh putranya, Kharis mengaku jika sang suami merupakan orang yang nekad, "Dia orangnya nekad sih tapi kadang baik juga orangnya," tutur Kharis.

Terkait hukuman, Kharis enggan berkomentar banyak, "Ya itu aku serahin sama pengadilan, insyaallah aku ga nuntut apapun," pungkasnya.

Menurut pengakuan Iwan (53) kakek bayi malang yang dibunuh oleh ayah kandungnya sendiri menjelaskan, Bayi selama ini tinggal bersama sang Kakek dan Neneknya di Sukabumi,"sejak orok (bayi merah) tinggal sama kita, kita sangat kehilangan," ujar Iwan saat ditemui TatarSukabumi.ID usai acara

Terancam Hukuman Mati

Polres Cirebon telah memeriksa sejumlah saksi terkait kasus pembunuhan yang dilakukan Taufik (27) terhadap anaknya, Kaisar Alfikar yang masih berusia 14 bulan dengan cara diracun.

Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Cirebon IPTU Iwa Mashadi mengatakan sebanyak enam saksi sudah menjalani pemeriksaan.

Namun karena kondisi Taufik masih dirawat, pihaknya mengurungkan niatnya untuk memeriksa Taufik. "Penyidik berupaya untuk melakukan penjemputan terhadap pelaku demi kepentingan pemeriksaan. Tadi sudah koordinasi dengan pihak rumah sakit, hasilnya pelaku masih perlu dirawat," kata Iwa kepada detikcom di RSUD Waled.

Selain memeriksa sejumlah saksi, pihaknya juga mengaku telah menyita sejumlah alat bukti. Dari hasil pemeriksaan yang telah dilakukan, menurut dia, motif pembunuhan yang dilakukan pelaku karena kekecewan terhadap istrinya, Karis (18) yang bekerja di Riau. Saat itu, lanjutnya, Karis menolak untuk pulang ke Cirebon.

Iwa menegaskan Taufik dijerat pasal berlapis, yakni tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), perlindungan anak, dan pembunuhan berencana dengan ancaman minimal 15 tahun kurungan penjara dan maksimalnya hukuman mati.

Loading...
loading...

Leave a Comment