Tetangga Parkir Sembarangan di Depan Rumah, Anak Angkat Ibu Ini Mengerjai Mereka

BERUK. Anda tahu beruk bukan? Sebangsa monyetlah yah. Saya, Anda, atau kita bisa saja menjadi beruk karena punya perilaku yang tanpa adab, sopan santun, atau etika.

Seperti yang diceritakan dalam artikel di bawah ini. Saya mendapatkannya tanpa nama. Hanya tertulis: "Beruk Metropolis." Tapi sekarang sudah ada nama penulisnya. Semoga tulisannya bisa menjadikan pahala buatnya karena sebab mengingatkan orang lain. Gambar sekadar ilustrasi. Mohon untuk bisa membedakan mana yang beruk dan mana yang bukan.

Copas dari sebuah group FB

Beruk metropolis itu bisa jadi saya, kamu, kita, Makjlebb banget... 

- Adab -
Oleh: Haryoko R Wirjosoetomo

Kemarin sewaktu berlebaran di Solo, saya sempatkan menengok ibu almarhum sahabat saya yang meninggal tiga tahun lalu. Beliau sudah sepuh, janda, anaknya hanya dua. Adik sahabat saya sendiri bekerja jauh di negeri orang, seperti biasa tidak bisa pulang saat lebaran.

Ketika tiba di rumahnya, saya agak heran melihat pagar rumahnya terbuka lebar. Beberapa buah mobil terparkir di halamannya yang lumayan luas. Awalnya saya berpikir kerabatnya banyak yang datang, ternyata beliau sendirian saja dirumah. Setelah sungkem dan saling bertukar kabar, saya tanyakan soal mobil-mobil di halaman tadi.

"Ibu tidak tahu itu mobil siapa nak..."

"Lho... kok bisa bu?"

"Mereka masuk saja dan parkir disana. Sudah kebiasaan, sejak anak saya tidak ada. Mereka anak2 tetangga di belakang sana. Rumahnya dalam gang kecil, mobilnya tidak bisa masuk..."

"Mereka tidak ijin Ibu?"

"Tidak nak..."

Sungguh, perasaan saya campur-aduk melihat mobil2 keren plat B itu. Mobil keren, namun pemiliknya bermental kere. Setelah berpikir sejenak, saya bertanya kepada beliau.

"Ibu hari ini ada acara?"

"Tidak nak..."

"Daripada Ibu sendirian disini, ikut kami bu, menginap di hotel malam ini?"

Beliau tampak ragu.

"Lalu mobil2 ini bagaimana?"

"Saya yang urus nanti..."

Akhirnya beliau setuju ikut saya, menginap semalam di hotel kami. Saya bantu beliau membawa tas pakaian kecilnya, menutup pintu pagar dan menggemboknya. Kemudian kamipun berangkatlah.

---ooo---

Persis dugaan saya. Saat kami makan malam di resto hotel, hape beliau berdering. Ketika beliau angkat, ternyata pak RT yang menelepon.

"Sebentar pak RT, bicara saja dengan anak angkat saya..."

Saya terima teleponnya. Pak RT bicara panjang lebar, intinya menyampaikan protes anak2 tetangga yang mobilnya terkurung di halaman rumah ibu sahabat saya.

"Tolong tanyakan kepada mereka Pak RT, mereka minta ijin atau tidak parkir di rumah kami?" ujar saya kepadanya. Diam sejenak, lalu..

"Memang tidak sih mas..."

"Nah, jadi bukan urusan kami kan?"

"Mereka tanya kapan ibu pulang?"

"Besok pagi..."

"Ini ada usul, bagaimana kalau gemboknya dibongkar saja?"

"Silakan pak, dan saya akan telpon polisi sekarang. Saya pastikan urusan ini bakal panjang..."

Diam sebentar, terdengar percakapan sayup di belakang, lalu...

"Baik mas, mereka akan menunggu sampai ibu pulang...."

Pak RT menutup telepon dan kami melanjutkan makan malam yang tertunda sembari membicarakan adab kaum urban Jakarta. Beliau sangat menyayangkan jika kerasnya kota Jakarta merusak adab mereka. Saya hanya diam mendengarkan, namun di kepala saya muncul tulisan besar-besar yang terbaca dari jarak jauh.

Beruk metropolis.

Cinere, 3 Juli 2017

Loading...
loading...

Leave a Comment